mayapadawiji

ruang hati ruang jiwa: mencerna keseharian dunia memunculkan pembelajaran

Pencapaian

with 14 comments

Dalam sebuah percakapan, seorang kawan akhirnya mengambil keputusan yang dinilai naif oleh banyak orang. Dia berencana keluar dari pekerjaannya di Singapura dan membuat usaha di daerah asalnya Klaten. Hal ini dipicu oleh sharing seorang tukang becak yang bisa mendapatkan uang 30 ribu sehari dan masih bisa tidur siang dengan nikmat. Baginya itu suatu hak yang tidak bisa diperoleh di Singapura atau Jakarta. Menurut dia, bisa tidur siang dan menikmati kebersamaan bersama keluarga adalah pencapaian utama.

Lain lagi cerita dari kampung saya di Kasongan Bantul. Seorang tukang becak—kebetulan tetangga saya–marah-marah di sebuah mini market. Pasalnya dia harus merogoh kocek sebesar 35 ribu rupiah untuk sekotak kecil es krim. Mengikuti keinginan anaknya yang ingin es krim, dia pergi ke ke sebuah mini market. Tanpa pikir panjang dia meminta sang anak menunjuk es krim yang dia inginkan. Maka ditunjuklah sekotak es krim yang harganya 35 ribu rupiah. “Masak es krim 35 ribu, biasanya rak ya se-“conthong” 1000an. Jyan kurang ajar kok tokonya itu”, begitu dia berapi-api bercerita di pos ronda. Saya hampir tertawa mendengar kisah itu tapi sejurus saya melihat bapak-bapak lain mengikuti cerita itu dengan serius dan mendukung si tukang becak. Saya jadi diam tak bekutik. Sehari-hari bapak ini pekerjaannya tukang becak atau kadang menjadi buruh angkut kerajinan gerabah. Kehidupannya nampaknya mulus-mulus saja, punya rumah punya keluarga, bisa makan 3 kali sehari, punya handphone dan bisa plesir kalau memang sedang jenuh. Saya suka kalau melihat dia sedang main catur dan ngopi, dunia seolah hanya miliknya.

Di Jakarta saya mendengar kisah seorang ibu–yang kaya tentunya–mengeluh anaknya tidak mau sekolah dan kerjanya hanya murung seharian karena: anak ini satu-satunya siswa yang tidak memiliki iPhone di kelasnya. Akhirnya si Ibu menyerah dan membelikan anaknya iPhone, padahal tadinya dia ingin mengajari anaknya perasaan bersyukur dan perjuangan dengan tidak serta merta membelikan peralatan yang sifatnya konsumtif. Di sini saya juga diam bingung mau bilang apa, soalnya bagi saya tidak punya iPhone bukan masalah sama sekali. Tapi bagi si remaja tadi, dunia seolah runtuh. Pertemanan bisa hilang dan proses belajar bisa menjadi kacau. Mungkin juga peluang bisa hilang karena kehilangan relasi. Begitulah, ukuran kesedihannya sangat jauh berbeda dengan ukuran kesedihan teman-temannya di Kasongan.

Kisah lain, di kampus tempat saya mengajar saya mendengar kisah seorang yang sedang menyelesaikan program doktoralnya. Sebuah pencapaian khusus bagi dia dan keluarganya. Tapi tidak bagi mertuanya: sudah ke luar negeri, sudah jadi dosen, sudah bicara ke mana mana kok belum punya mobil. Menjadi lebih kacau lagi karena rumahnya-pun masih nyicil dan tidak sebesar yang lain. Maka ada tarik ulur dalam keluarga tersebut berkaitan dengan pencapaian dalam hidup. Saya seolah ikut merasakan kegalauan keluarga tersebut.

Lalu apa yang sudah kamu capai Wiji? Wah apa ya ha ha ha ha … saya tertawa ketika ditanya hal tersebut. Saya merasa sudah amat bahagia bisa makan tiga kali sehari dan bisa keliling sebagian besar kepulauan Indonesia. Hal yang bapak saya sendiri tidak memikirkannya akan terjadi pada saya. Soalnya dulu yang pernah dia ucapkan, “Kamu lulus SMA ya kerja aja di pabrik plastik belakang rumah.” Sampai akhirnya bapak memutuskan saya harus kuliah dengan segala resikonya. Beberapa orang tidak percaya saya pernah keluar negeri. Tapi beberapa teman saya waktu kecil yang kebetulan preman dari lahir segera percaya dan malah bilang, “Kami senang mendengar kisahmu Wid..kamu memang lain sejak kecil’. Begitulah, dalam segala pertemanan yang absurd bersama mereka saya sering merasa mereka adalah salah satu keluarga terdekat saya. Mereka yang dulu sudah sangat bahagia mendapatkan sebotol ciu untuk sekedar melepas kepenatan hidup. Ada juga yang mencemooh kami karena ada adik saya yang hidup tidak normal. Bagi mereka mungkin kami keluarga yang gagal—tapi saya pikir mereka sirik saja ha ha ha ha. Bagaimanapun saya bahagia dengan kondisi saya saat ini. Itu yang saya imani sejak dulu. Bersyukur dan menikmati setiap apa yang saya capai. Bersyukur dengan menyesuaikan kapasitas saya saat ini. Pas saya hidup di kamar kecil di sebuah kos-kosan saya merasa bahagia sekali karena dunia benar-benar serasa milik saya. Ibaratnya mau apa saja saya bisa kalau mau. Beberapa teman melihat saya amat menikmati hidup. Padahal ya saya berusaha mensyukuri hidup saja. Mungkin karena standar pencapaian dan kebahagiaan yang berbeda. Saat itu, bagi saya bisa tidur seharian hanya mendengarkan kaset—benda ini adalah raja kala itu—merupakan salah satu tujuan hidup, jadi saya kadang memilih tidak menikmati hal lain asal saya bisa beli kaset dan mendengarkannya berkali-kali.

Pencapaian, kebahagiaan, pada akhirnya menurut saya betul-betul berada pada pilihan kita untuk merasa bahagia dan menerima apa yang kita miliki saat ini. Bagi beberapa orang; dia akan merasa tidak bahagia jika tidak memiliki iPhone, bagi sementara orang pemilikan telpon selular seharga 150 ribu sudah membahagiakan sekali. Masalahnya adalah mau tidak kita berbagahagia dengan kondisi yang ada saat ini? Seorang kawan mati-matian berusaha pergi ke luar negeri karena bagi dia ke luar negeri adalah pencapaian, maka dengan langkah yang pasti dia berutang ke sebuah badan perkreditan rakyat agar bisa pergi ke luar negeri. Tidak masalah mahal dan utang, yang penting bisa ke luar negeri. Dia suka sekali menceritakan pengalamannya ke luar negeri itu, walau hanya sekali. Tapi ada teman saya yang sudah keliling dunia, ya santai saja orangnya, bagi dia itu bukan pencapaian. Bagi dia itu adalah proses  pindah biasa sama seperti kita pindah tempat main ke kampung sebelah. Dia bahagia sekarang menjadi Ibu rumah tangga saja setelah berkelana ke mana-mana.

Enak saja Wiji kamu bilang begitu, kamu tidak merasakan penderitaan kami. inilah titiknya. Dunia kita seolah diciptakan untuk selalu membandingkan. Dia bisa kenapa saya tidak? Begitu seterusnya. Saya berempati kalau anda tidak setuju, tapi tiap kita menurut saya diciptakan unik dan memiliki porsinya masing-masing. Mengapa disusahkan dengan pencapaian yang bukan milik kita?

Atau kita memang sudah terjebak di dunia yang penuh citra ini? sehingga harus hidup hanya berdasarkan citra?

 

Written by wijisuprayogi

March 12, 2012 at 22:39

Sendiri Bersama-sama

with 4 comments

Sebuah catatan dalam kesendirian yang ramai yang mungkin hanya berlaku buat saya sendiri….

Teman saya, seorang penulis, pernah berujar, “…yang aku senangi dari facebook adalah kenyataan bahwa aku tidak sendiri tapi dikelilingi banyak orang ketika bekerja di rumah”. Inilah salah satu alasan mengapa orang begitu senang ber-facebook-ria. Orang-orang merasa mendapatkan teman. Mereka bisa bertemu dengan kawan lama, kawan baru, dan kawan sekarang secara bersamaan sekaligus dalam satu ruang. Mereka juga bisa berkomunikasi dan berinteraksi secara intens kapanpun dan dimanapun asal ada akses internet. Dari kemudahan akses dan kesempatan itu orang jadi terbuka pada suatu kemungkinan komunikasi dan penjelajahan ruang yang begitu luas. Tiada batas dan aturan pengikat dalam ruang jejaring sosial itu. Mau berpolah apa saja seolah bisa, mau telanjang kek, mau omong kasar kek, semua bisa dilakukan lewat jejaring sosial. Mau mencari kesenangan, banyak permainan dan tontonan menarik di jejaring sosial ini. Mau mencari informasi atau pengetahuan, dengan mudah kita bisa mendapatkannya. Sampai akhirnya secara ekstrem kita mendapati jejaring sosial ternyata turut berperan dalam penggulingan dan revolusi pemerintahan. Berbagai aliran informasi lewat jejaring sosial ikut mendukung berbagai gerakan revolusioner di muka bumi ini.

Sadar atau tidak sadar, kehidupan kita pada akhirnya terpengaruh secara drastis oleh proses berjejaring di dunia bernama internet. Cara kita berkomunikasi, memandang dunia, dan cara kita menentukan identitas lambat laun dipengaruhi oleh perkembangan jejaring sosial di internet. Keseharian kita pun akhirnya ikut ditentukan oleh pemakaian jejaring ini. Bolehlah kita bilang bahwa kita tinggal di hutan tanpa memiliki akun facebook misal, kemudian kita merasa aman-aman saja dan tidak memiliki masalah karenanya. Tapi hal ini terjadi ketika kita benar-benar tidak terkoneksi dengan orang lain. Begitu kita bergaul dengan masyarakat luas maka pandangan orang terhadap kita sangat mungkin sekali dipengaruhi oleh kepemilikan akun suatu jejaring sosial. Intinya kita bisa dipandang aneh atau tidak wajar ketika berujar: saya tidak punya facebook. Bahkan ketika kita merasa tetap tidak ada masalah sebenarnya di luar kita sudah menjadi masalah tersendiri karena dianggap tidak biasa. Tentu saja ada kompleksitas tersendiri dalam proses “pandang memandang” ini. Sederhananya, kepemilikan akun itu menentukan siapa “saya” di mata orang lain dan di mata diri sendiri.

Lebih konkrit lagi, jejaring itu memiliki kekuatan yang begitu besar sehingga mampu membentuk perilaku sehari-hari dan kepribadian kita. Contohnya: kalau kita makan bersama, dulu kita bisa saling ngobrol dengan santai dan nyaman. Saling berbagi rasa dan kehangatan. Sekarang, bisa jadi kita ada di satu meja tapi sibuk sendiri-sendiri dengan gadget kita. Bicara satu dengan yang lain tapi wajah menatap gadget. Perilaku kita berubah dan karakter kita tertutup atau lebih ekstrem lagi berubah ketika menghadapi orang lain. Tadinya kita pribadi yang ramah dan supel tapi begitu berkenalan dengan jejaring sosial atau internet kita bisa merubah karakter karena kebutuhan tertentu. Perlahan namun pasti karakter yang kita bentuk di dunia maya itu membuat kita selalu berstrategi untuk menonjolkannya. Perlahan namun pasti pula aktifitas kita di dunia maya membuat kita menyendiri dan tidak supel lagi.

Pada titik inilah teman saya yang lain berujar, “Wid, kita sebenarnya sedang menuju suatu kehidupan yang menyendiri, kita hidup sendiri-sendiri di tengah keramaian”. Kok bisa? begitu ujar saya. Bayangkan, dia berujar, kita semua terkoneksi dengan orang lain lewat internet tapi kita melakukan komunikasi tersebut sendirian di kamar. Kita mengadakan percakapan dengan orang lain lewat internet tapi pada saat bersamaan kita sendirian secara fisik di suatu ruang. Ini mengerikan, begitu kata dia.

Maka dari situlah penjelajahan saya mengenai dunia bernama sendirian dimulai. Perlahan namun pasti saya mulai menyadari bahwa  internet ini ternyata menggerogoti kemanusiaan kita. Hal ini terjadi karena aktifitas kita berinternet perlahan namun pasti membuat perilaku kita berubah. Sebagai manusia yang utuh kita tentu diharapkan bertumbuh sesuai dengan nilai atau norma yang ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya saja kita diharapkan bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik, berbicara bertatap muka, menunjukkan empati, perhatian, senyum dan kehangatan. Perilaku itu menjadikan kita diterima dan dihargai. Dalam keseharian, kita dituntut untuk memiliki identitas dengan perilaku ideal tertentu pula. Kita beragama  dan kita belajar untuk memenuhi berbagai tuntutan dalam agama tersebut agar bisa disebut: beragama. Sekolah ikut menentukan siapa kita dan bagaimana kita bertingkah, demikian juga kampung kita ikut menentukan siapa kita.

Semua contoh tadi menjadi bubar alias bubrah alias berantakan di dunia bernama internet. Berantakannya bukan karena pecah menjadi berkeping-keping tapi justru karena didorong menjadi seragam. Begitu berinteraksi dengan internet kita didorong untuk memahami bahasa yang ada dalam internet yang dibangun untuk meleburkan keunikan menjadi keseragaman. Lihatlah semua menunjuk gambar jempol ke atas ketika merasa senang. Gaya foto juga semakin seragam: tertawa dengan mimik tertentu dan menunjukkan jari berbentuk huruf V atau tiga jari teracung. Sepertinya sepele tapi ada banyak penyeragaman di sana. Kalaupun ada berbagai variasi dan akomodasi keunikan nampaknya kita juga harus menelaah apakah keunikan itu dilakukan atas dasar orisinilitas, meniru, atau—ini yang cukup ngeri—dilakukan dengan satu sikap seragam bernama kemunafikan. Kok bisa?

Ketika kita memasuki dunia jaringan sosial mau tidak mau kita berusaha membangun image atau tampilan tertentu. Nah di sinilah kita memulai menyusun strategi beridentitas di dunia maya. Kita mulai membangun cara bagaimana kita berujar, memunculkan foto, menuliskan komentar, mencari teman dan banyak lagi. Kita ingin dilihat sebagai pribadi tertentu di dunia baru ini. Entah anda setuju atau tidak kita sedang menuju pribadi ganda. Proses menentukan image ini akan sangat berbeda dengan dunia nyata karena media dan prosesnya beda. Di dunia maya kita tidak bersentuhan dan tidak melihat sendiri orang yang sedang kita ajak berkomunikasi atau melihat profil kita. Artinya kita didorong untuk menunjukkan terus keberadaan kita dengan keras supaya orang yang tidak melihat kita itu memiliki gambaran siapa kita ini. Nah disini proses itu tidak bisa jujur sejujur-jujurnya. Pasti ada perubahan image. Kalimat ini menjelaskannya, “Kok beda sama facebook?” Bukankah tanpa sadar kita sudah memiliki dua kepribadian? Pribadi beridentitas tertentu di dunia maya dan pribadi pribadi beridentitas tertentu di dunia nyata.

Mari kita berusaha memikirkan proses pembentukan pribadi dan identitas tadi. Pertama, semuanya dilakukan dalam kesendirian; kedua, dilakukan dengan membayangkan berbagai kemungkinan yang tidak nyata; ketiga, perlahan hal itu merubah keseharian kita. Teman saya yang mengenalkan kesendirian tadi menyebut hal ini mengerikan. Mengapa? Dari bayi sampai besar kita diajar untuk berperilaku tertentu. Ada waktu yang cukup panjang yang kita lampaui sampai menjadi kita saat terkini. Nah dalam proses berinternet, perubahan sikap dijalankan dalam hitungan yang amat cepat. Tidak perlu bertahun-tahun. Sepertinya—lagi-lagi—sederhana, tapi dalam percepatan itulah kebingungan sedang merasuki banyak pribadi. Saya membahasakan begini: eh saya bisa sendirian menentukan identas, eh saya tidak perlu orang lain, wow saya bisa menjadi batman di facebook, wow saya bisa menjadi orang kuat di facebook dst. Tapi di sisi lain kita juga merasa: lho kok cepat sekali berubah, waduh kok saya harus tetap berkepribadian seperti batman, bagaimana ini, lho saya kan tidak kuat, lho saya harus menyiapkan skenario tertentu di facebook. Semua berlangsung cepat. Tapi kemudian saya juga berujar: tapi kok asik ya? wah saya bisa jadi apa saja nih. Pada titik ini, bukankah kepribadian kita terpecah? Bukankah tubuh kita tidak terlibat dalam kepribadian yang lain itu? Semua menjadi serba cepat dan kata instan dalam arti yang buruk bisa dilihat di sini karena yang cepat itu membuat jiwa dan tubuh kita terpecah. Bukankah kemanusiaan kita menjadi tidak utuh? Ketidakutuhan itu semakin nyata dengan makin hilangnya keunikan karena penyeragaman.

Fakta lainya, kita melakukannya dalam kesendirian secara bersama-sama.  Kita memerlukan suatu cara pandang baru dalam konteks ini. Tantangan tersendiri juga buat agama karena: di internet tidak peduli agamanya apa pokoknya kita dibujuk untuk membangun identitas baru dalam keramaian sekaligus kesendirian. Identitas itu biasanya mengabaikan posisi kepercayaan kepada yang ilahi dan bahkan kadang menghilangkannya. Nah makin kuat kan kesan ketidak utuhan manusia?

Saya tidak sedang berusaha mengajak orang membenci internet, mungkin saya juga salah. Saya sedang mengajak berefleksi…agar kemanusiaan kita menjadi utuh dan agar kita siap menghadapi tantangan hidup baru bernama: sendiri bersama-sama

 

Written by wijisuprayogi

February 8, 2012 at 00:01

Ironisnya

with 4 comments

“Wiji, kamu itu nulis soal hp padahal kamu sendiri menggunakan semua hal yang kamu ceritakan dalam tulisan itu”, begitu kritik seorang teman mengomentari tulisan saya mengenai hp—baca posting sebelumnya.

Memang di situ terletak ironi dan kenyataannya. Saya merasa ada kekuatan besar yang mendorong setiap orang di muka bumi ini untuk selalu membuat kebutuhan baru. Ketika saya sadar bahwa saya terbuai oleh dorongan itu maka semesta disekeliling saya tidak mendukung kesadaran tersebut.

Proses tidak mendukung tadi bisa digambarkan begini: kita berangkat tidur dengan menyetel handphone atau gadget lain jadi alat pembangun kita, kemudian ketika bangun, barang pertama yang kita sentuh adalah hp. Setelah itu kita menyetel tv. Melihat infotainment atau berita. Iklan bertebaran di dalam acara-acara itu. Selanjutnya kita mandi. Semua barang yang kita pakai waktu mandi bisa jadi ada di iklan tv yang barusan kita lihat. Singkat cerita kita keluar gang atau jalan raya untuk pergi bekerja. Di sana kita melihat berbagai macam iklan terpampang di baliho yang bertebaran tak karuan. Sampai di kantor ada banyak tawaran belanja. Baik itu berasal dari cerita teman mengenai tempat belanja yang mereka kunjungi atau memang ada teman yang sengaja memberi katalog dagangan. Tidak lama kemudian kita mendapatkan katalog iklan dari supermarket yang dikirim lewat kantor. Membaca koran juga langsung disodori iklan. Ketika makan, kita bingung memilih, maka iklan yang jadi referensi. Mungkin kita juga membuka internet untuk mencari iklan atau lokasi restoran terbaik. Mungkin juga kemudian mengikuti trend yang sedang berlangsung: ikut orang lain ke lokasi makan  yang sekarang sedang digemari oleh banyak orang. Di kota besar ketika macet menjadi masalah tak terpecahkan banyak orang memilih pergi ke mall dulu untuk menunggu jalanan sepi. Tentu saja di mall ini orang kemudian dilingkupi iklan dan dorongan mengkonsumsi lagi. Sampai di rumah kita melihat tv lagi. Acara yang muncul adalah promosi gaya hidup lagi, baik itu lewat sinetron, film, maupun iklan itu sendiri. Begitulah kita dikepung sedemikian rupa oleh “pendorong hasrat” untuk mengkonsumsi atau memakai sesuatu yang mungkin tidak kita butuhkan. Tanpa sadar setiap hari kita mendapat informasi produk baru dan didorong membelinya.

Proses di atas merupakan satu contoh saja mengenai terkepungnya pribadi oleh kebutuhan dan hasrat mengkonsumsi dan mengkonsumsi lagi. Anak-anak kita mengalami hal yang sangat mirip dengan kita. Bahkan mereka kadang lebih banyak berada di depan tv atau media yang langsung mengajari mereka untuk selalu merasa membutuhkan sesuatu. Iklan-iklan di televisi dengan kejam memberikan gambaran-gambaran keliru. Kita yang oleh orang dianggap dewasa mungkin menganggap iklan hal lucu. Tapi tidak dengan anak-anak, mereka menganggapnya dengan serius menurut ukuran mereka. Seorang teman memiliki anak yang cukup kritis, anak itu melihat sebuah iklan susu. Iklan tersebut menceritakan seorang anak yang bisa menjadi pandai ketika minum susu yang ditawarkan dalam iklan—begitulah yang ditangkap di layar. Efek dari proses itu, si anak selalu merengek dibelikan susu tersebut dengan alasan: supaya menjadi pandai. Si anak tidak menangkap adanya proses agar seseorang menjadi pandai; yang ditangkap oleh anak itu dilayar: pokoknya ada anak minum susu dan dalam hitungan detik anak yang minum itu menjadi pandai dan dipuji banyak orang. Ibu dan Bapak anak tadi menjadi kalang kabut karena harga susunya tak terjangkau. Kemudian, untuk menenangkan anak dan memenuhi kebutuhan susu itu mereka terpaksa bekerja lebih keras—ada keluarga yang kemudian hutang untuk mencukupinya. Mungkin anak jadi tenang, tapi di sisi lain anak tersebut kehilangan waktu lebih banyak dengan orang tuanya karena mereka lebih sibuk bekerja. Saya menyebutnya menjadi berlebihan karena tanpa susu itupun si anak bisa menjadi pandai. Susu yang harus diminum menurut beberapa dokter yang saya jumpai tidak harus bermerek atau mengandung unsur-unsur berlebih. Cukup dengan susu murni atau susu biasa karena umumnya kandungannya sama. Bukankah ini kejam? Kebutuhan itu merubah semuanya sampai pada pola hubungan orang tua. Bahkan pola pikir anak juga menjadi korban ketika mereka tidak bisa melihat proses yang terjadi untuk menjadi pandai. Kejamnya lagi fantasi anak-anak itu dibatasi oleh tayangan di tv saja. Bayangkan, setiap hari anak-anak kita mendapatkan “proses belajar” seperti ini.

Mungkin, apa yang saya ceritakan di atas dianggap berlebihan atau ya sekedar kejadian biasa. Menurut saya disitulah letak kecanggihan kekuatan dorongan memenuhi kebutuhan dengan berlebihan. Kita merasa itu alamiah atau biasa. Siapa sih yang tidak menganggap memenuhi kebutuhan anak itu alamiah dan biasa? Bukankah itu kewajiban? Masalahnya kita mengkonsumsi barang dengan berlebihan. Mau contoh lain? Mari kita bertanya demikian: seberapa banyak sayuran yang kita buang? Seberapa banyak makanan yang kita buang? Seberapa banyak barang elektronik yang kita buang? Apakah kita memang membutuhkan yang baru sehingga membeli setiap ada produk baru muncul? Seberapa banyak sepatu kita? Seberapa sering kita belanja?

Kalau semua orang di dunia berperilaku sama seperti beberapa proses yang saya ceritakan tadi, bisakah anda membayangkan berapa besar energi dan sumberdaya yang terkuras? Bisakah Anda melihat betapa berubahnya pola hidup dan cara kita meliaht dunia. Faktanya hampir semua orang di dorong untuk melakukan konsumsi yang berlebihan.

Kata konsumerisme bisa dilihat dalam proses-proses yang saya ceritakan tadi. Nah kalau semua orang mengkonsumi berlebihan bukankah sebenarnya dunia berubah karena konsumi ini?

Written by wijisuprayogi

November 21, 2011 at 11:35

Bergaya dengan HP: Catatan Perubahan Hidup

with one comment

Beberapa tahun lalu, saya pikir saya tidak membutuhkan pulsa handphone. Pulsa merupakan barang mewah. Untuk membeli chip bersama nomornya saja perlu menabung sampai berbulan-bulan. Apalagi untuk membeli pesawat teleponnya. Sekarang saya merasa membeli pulsa adalah kebutuhan pokok. Bahkan orang bisa berpuasa demi pulsa. Mereka rela menahan lapar dan bahkan tidak makan hanya demi pulsa handphone. Mahasiswa menangis sedih jika tidak memiliki handphone. Diktat kuliah atau buku tidak menarik lagi, lebih penting membeli pulsa atau membeli handphone. Alasannya manis: dengan handphone kita bisa buka internet dan informasi serta bahan kuliah ada tersebar di dunia internet. Padahal informasi terasebut belum tentu benar, tapi kita sudah terlanjur melihat semua informasi di internet adalah pengetahuan yang baik. Maka Google pun sekarang disebut sebagai tuhan: karena bisa menjawab apapun. Anak SD-pun sekarang merasakan bahwa handphone menjadi peralatan wajib. Mereka diejek teman jika tidak memiliki handphone. Permainan anak-anak itu bukan lagi sepak bola atau gobag sodor tapi memelototi hp setiap waktu.  Maka di mana-mana sekarang terlihat orang lebih memperhatikan pesawat handphonenya daripada orang yang diajak atau mengajak bicara. Bahkan menjawab sms ketika sebuah ritual agama berlangsung menjadi hal yang lumrah.

Apakah memang pulsa itu kebutuhan pokok? Pertanyaan ini menyeruak dalam hati saya ketika melihat kenyataan bahwa orang lebih rela lapar daripada tidak bisa “update status” di jejaring sosial melalui handphone (hp) mereka. Kebingungan ketika tidak memiliki pulsa juga saya rasakan: kalang kabut karena tiba-tiba tidak bisa kontak dengan orang lain atau tidak bisa menjawab pertanyaan mereka—padahal orang-orang itu biasa-biasa saja di seberang sana. Hidup sekarang seolah hanya berputar pada hp dan aktivitas yang berkaitan dengannya. Orang-orang mengambil hp dan memainkannya walau tidak menelepon. Mereka seolah hanya ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki hp dengan merek tertentu. Begitulah kepemilikan hp menjadi penanda kelas sosial tertentu. Maka tidak heran, ketika Blackberry terkenal banyak orang berlomba memiliki hp yang bentuk dan rupanya seperti Blackberry. Tidak peduli bahwa perbuatan mereka adalah menjiplak atau mencontek. Yang penting terlihat memiliki Blackberry: simbol kekayaan dan kepemilikan kekuasaan. Maklum yang punya Blacberry biasanya adalah para bos. Juga simbol kekudusan: maklum di dalamnya ada kitab suci dan banyak para pemuka agama memakainya.

Begitulah handphone merubah gaya hidup kita. Sedih dan senang diukur oleh kepemilikan hp dan kemampuan berjejaring dengan hp. Anak-anak menangis minta dibelikan hp dan orang tuanya membelikannya dengan dalih manis agar komuniaksi lebih lancar. Padahal komunikasi audio saja yang lancar, selebihnya kita bicara dalam jarak yang kadang amat jauh dan terasing karena kita tidak berhadapan langsung. Bisa jadi kita bilang pergi ke kota A padahal kenyataannya kita ada di rumah saja. Anak-anak kita bisa melakukan hal yang sama ketika mereka pamit atau ijin untuk ikut ektrakurikuler di sekolah, padahal mereka pergi ke mall atau berpacaran di pojok-pojok gelap kehidupan. Fakta lain yang harusnya tidak mengejutkan adalah: kita menjadi semakin jauh tanpa sempat menyadarinya.

Jempol menjadi bagian tubuh yang cukup penting. Dulu jempol hanya digunakan pada waktu dan area tertentu saja. Jempol bisanya berhubungan dengan memberi pujian atau menekan sesuatu yang berat. Sekarang tiap hari kita mengoperasikan jempol untuk SMS atau menekan tombol di hp. Mungkin jempol lambat laun akan berevolusi berkatian dengan aktivitasnya ini. Berkaitan dengan kegiatan jempol, kita menulis tiap hari. Anehnya kita tidak makin pandai atau mahir menulis artikel ilmiah, tapi makin tidak jelas kosakata dan tata bahasanya. Keterbatasan sms memaksa orang kreatif membuat singkatan tapi juga membuat orang bebal dengan logika bahasa dan tata krama. Sms membuat orang tidak merasakan perjumpaan dan tidak merasa perlu untuk bertata krama. Kita bahkan bisa berkomunikasi via sms atau telpon sambil buang air besar.

Apakah kita sebenarnya perlu berkomunikasi sedemikian “massive” ? Setiap hari update status? Siapakah yang akan membaca? Apakah kita menjadi semakin dekat dengan pola komunikasi jaman ini? Ataukah kita justru makin kerdil karena keterbatasan alat dan juga keterbatasan tatap muka yang bisa mengaburkan makna? Tapi di sisi lain, kemungkinan-kemungkinan pada perubahan juga makin terbuka.

Handphone hanya satu saja dari jutaan segi dalam kehidupan saat ini yang membuat kita mengubah hidup kita. Sadarkah kita akan hal itu? Sadarkah kita bahwa televisi juga merubah hidup kita? Bahkan shampo ataupun pasta gigi sekarang juga amat mungkin merubah orientasi hidup kita?

Gaya kita dalam berkomunikasi didorong menjadi semakin gaya…dan gaya hidup kita ikut terdorong menjadi makin gaya juga …

Written by wijisuprayogi

November 14, 2011 at 15:59